Home » Building Solution, Headline, IT Consultant, News, Support Maintenance

Chrome, Browser ala Google

3 September 2008 148 views 3 Comments

Jakarta MNews (02/08), Genderang perang telah di bunyikan kembali oleh Google, kali ini menggunakan senjata browser terbaru buatannya, Google membuat Microsoft terpaksa harus berpikir lebih cepat lagi. Tidak pelak lagi hal ini dapat membuat banyak pengguna internet akan beralih. Layanan kemudahan seperti searching dan layanan lain di google menjadi daya tarik tersendiri untuk browser ini. Tetapi sebuah blog di internet mengatakan bahwa Chrome bukan sekedar browser tetapi juga sebuah sistem operasi desktop yang bersaing “head to head” dengan Windows. Benarkah demikian ?

Google Chrome yang menghebohkan dan menjadi pembicaraan di internet saat ini, ternyata memang telah di persiapkan dengan baik oleh perusahaan yang di komandoi oleh Eric Schmidt ini. Saat ini rumor tentang chrome terbagi atas 2 yakni ; Chrome sebagai sebuah Browser atau sebuah operating sistem. Dari penelusuran tim Mnews di beberapa media dan blog, ternyata lebih banyak yang menganggap Chrome adalah sebuah browser. Namun apa saja fitur utama yang akan di tampilkan ?, berikut adalah salah satu petikan dari sebuah blog yang menampilkan tulisan tentang chrom tersebut.

  • Google Chrome is Google’s open source browser project.
  • The browser will include a JavaScript Virtual Machine called V8
  • Google Chrome will use special tabs
  • The browser has an address bar with auto-completion features
  • As a default homepage Chrome presents you with a kind of “speed dial” feature, similar to the one of Opera
  • Chrome has a privacy mode; Google says you can create an “incognito” window “and nothing that occurs in that window is ever logged on your computer.
  • Web apps can be launched in their own browser window without address bar and toolbar
  • To fight malware and phishing attempts, Chrome is constantly downloading lists of harmful sites

Mnews - BS.

3 Comments »

  • Lex dePraxis said:

    Saya agak telat satu hari memakai browser teranyar yang sedang menarik perhatian dunia ini. Dirilis tanggal 2 September kemarin, saya baru mengunduh dan meng-install-nya sehari setelah itu. Cukup menarik sekali untuk melihat software yang masih versi beta ini sudah mampu mendukung berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, walaupun masih terasa aneh dan konyol (bayangkan saja, ada sesuatu yang diberi nama ‘Di bawah terpal’ !!!).

    Sepintas pada visual, ini adalah browser dengan tampilan yang sangat minimalis dan menawan. Saya nyaris tidak bisa melihat tombol atau gambar apapun yang terserak di interface / antarmuka-nya yang berwarna biru langit tersebut. Sepertinya Google benar-benar serius dengan komitmen mereka untuk memberikan keunggulan dalam kecepatan dan ketepatgunaan. Saya sedikit perlu penyesuaian ketika melihat tampilan tab yang agak nyeleneh dibanding dengan browser lainnya, tapi dalam lima belas menit saya sudah jatuh cinta dengan tampilan Google Chrome.

    Sayangnya keunggulan penampilan tersebut masih belum dibarengi dengan kelengkapan fungsi yang memadai. Misalnya saja pada engine blog wordpress saya, http://hitmansystem.com/blog , tidak bisa menampilkan visual rich-text editor. Yang dimunculkan adalah box teks yang perlu di-edit secara html manual atau copy-paste dari dreamweaver atau software sejenisnya.

    Saya pikir, Chrome sangat memerlukan kekuatan komunitasnya untuk menciptakan plugins yang membuat para peselancar dunia maya menjadi kasmaran berat dengannya. Seharusnya tidak perlu waktu lama untuk mereka mulai mengembangkan plugins itu atau istilah mereka ‘gears’ tersebut, tapi saya juga tidak terlalu yakin Chrome akan mengantisipasi banyak gears karena tujuan utama mereka adalah keringanan dan kecepatan.

    Selama ini saya adalah pengguna browser Maxthon yang menurut saya pribadi sangat memuaskan dari segi keringanan, kecepatan, dan keluasan fungsi. Bergantian dengannya, saya juga masih memakai Firefox untuk keperluan mengakses situs yang kaya akan AJAX dan fungsi-fungsi skrip dinamis lainnya (seperti Facebook, Google Reader, atau Meebo) karena di Maxthon hal tersebut masih kurang terakomodasi dengan baik selain perlu loading yang lama. Kehadiran Chrome sepertinya yang serba cekatan menangani skrip sepertinya merupakan penyatuan yang sempurna dari Maxthon dan Firefox. Terbukti saya yang sekarang sudah uninstall Firefox, tertinggal Chrome sebagai default browser yang disusul oleh Maxthon sebagai alternatif yang sampai sekarang masih sulit saya tinggalkan. Perlu waktu yang lama bagi saya dahulu untuk memutuskan pindah dari Firefox ke Maxthon. Ketika saya melihat Chrome, hanya perlu waktu beberapa jam saja.

    Sekalipun demikian, Chrome sepertinya tidak begitu dianjurkan untuk mereka yang menggunakan internet dengan bandwidth terbatas karena sampai saat ini tidak bisa memblok atau menonaktifkan gambar-gambar yang biasanya menyedot resource bandwidth. Akibatnya, berselancar dengan Chrome akan menghabiskan biasa yang cukup besar. Situs-situs populer di Indonesia seperti Detik.com, Kaskus.us, HitmanSystem.com, Okezone.com, ataupun manca negara seperti MSN.com dan BoingBoing.net memiliki begitu banyak materi gambar yang akan terasa merampok peselancar yang menggunakan dengan limited bandwidth.

    Bagi saya, ada dua fitur yang paling menarik dari Chrome. Yang pertama adalah Incognito Window. Ini adalah ide mungil yang cukup cerdas; saya sangat terkejut Google mengantisipasi kebutuhan ini dengan serius, sampai-sampai dimunculkan sebagai mekanik tersendiri dalam browser mereka. Fitur kedua adalah Omnibox yang membuat segala sesuatunya lebih singkat dan lancar. Jenius!

    Google telah menyewa seorang komikus untuk mengerjakan komik pendek yang bisa dibaca di sini. Saya adalah penggemar Scott McCloud lewat karyanya Understanding Comics, jadi saya memiliki harapan yang tinggi untuk hasil kerjasamanya dengan Google ini. Sayang sekali, komik Chrome tidak berhasil memuaskan harapan tersebut, karena penyampaiannya yang masih terasa kaku, prematur dan tidak serius. Anyways, pengguna Chrome, atau malah pencinta Chrome, rasanya akan tetap menikmati karya tersebut sebagai tutorial mekanik dari masa depan sebuah browser.

  • Bona Simanjuntak said:

    Sejujurnya perhitungan ini belum terlalu akurat di lakukan. Kalau dari sisi memory justru malah lebih ringan karena di Chrome tersebut di tampilkan. Dalam sebuah tes dengan membuka situs ini, penggunaan memory lebih sedikit dan penggunaan bandwidth tidak berbeda justu ada beberapa hal yang belum bisa saya putuskan mana yang menarik tetapi dalam hal cookies ada sesuatu yang menarik di browser ini ;)

  • buddy said:

    memakai browser “chrome..” memang asik banget selain tampilannya simple.pada awal kita buka browser Chrome ini akan terlihat history apa saja yg sudah kita browse…
    dan memang lebih ringan..juga lebih nyentrik..

    bravo Chrome

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.